Tegai Blogku?

Rabu, 11 Mei 2011

Menanamkan Nilai Getteng, Lempu, Tettong Riada Tongeng pada Pemimpin di Perayaan Bone Ke- 681

Hari Jadi Bone diperingati tanggal 6 April setiap tahunnya. Hal ini berdasarkan Peraturan daerah Kabupaten Bone Nomor 1 Tahun 1990. Penetapan ini diawali dengan kegiatan seminar yang dihadiri oleh Pakar Sejarah dan Budayawan Bone. Tanggal dan Bulan penetapan Hari Jadi Bone diambil berdasarkan Pelantikan Raja Bone ke-16 Lapatau Matanna Tikka pada tanggal 6 April 1696. Masa Pemerintahnnya (1696-1714). Sedangkan penetapan tahunnya berdasarkan sejak Tahun 1330 masa pemerintahan Raja Bone ke-1 yaitu La Ubbi yang digelar Manurungnge Ri Matajang (1330-1358)

Dengan demikian, tahun 2011 Bone memperingati hari jadinya ke-681 yaitu , Tanggal 6 April 2011 yang terhitung sejak La Ubbi To Manurungnge Ri Matajang sebagai Raja Bone ke-1 (1330). Perlu dipahami, bahwa Peringatan Hari Jadi Bone walaupun hitungan tahunnya sejak 1330 namun proses pelaksanaannya baru dimulai tahun 1990.
Perencanaan perayaan tersebut tidak mungkin akan diperingati jika  Bone tidak mempunyai kejayaan pada masa silam. Sejarah mencatat bahwa kerajaan Bone pada masa jayanya merupakan salah satu kerajaan besar di nusantara.
Kerajaan bone pada awalnya didirikan oleh ManurungE Rimatajang, mencapai puncak kejayaaannya pada masa pemerintahan Latenritatta Towapptunru Daeng Serang Datu Mario Riwawo Aru Palakka Malampe Gemmena Petta Torisompa Matinroe ri Bontoala.
Salah satu nilai hidup yang tertanam pada tubuh raja Bone yakni, “getteng, lempu, tettong riada tongeng sehingga Bone meraih kejayaannya dan diagung-agungkan oleh rakyatnya. pemimpin pada sekarang membutuhkan semacam pelajaran dari pemimpin-pemimpin sebelumnya takkala dia menemukan persoalan yang sulit ditemukan solusinya.
Getteng berarti bersikap tegas, merupakan faktor penting pemimpin dalam membina masyarakat karena getteng merupakan cerminan jiwa kemanusiaan yang tinggi jiwa dedikasinya, dan selalu berorientasi kemasa depan dan pembaharuan. Sikap getteng harus dimiliki oleh setiap pemimpin sebagai panutan dalam masyarakat, getteng harus ditanamkan kepada seluruh lapisan masyarakat mulai dari tingkat yang terendah sampai pada tingkat yang tetinggi.
Tettong, artinya konsisten pada pendirian oleh pemimpin. Konsep tettong sebagai salah satu sifat utama yang harus dimiliki Pemimpin, dipahami sebagai kemampuan pemimpin dalam menepati apa yang pernah diungkapkannya, satunya kata dengan perbuatan, yakni ada na gau.
Perkataan pemimpin merupakan pegangan yang akan dijadikan dasar bagi rakyatnya, apabila pemimpin mampu untuk tetap menjaga ada yang pernah dikeluarkannya, maka rakyatnya akan selalu mempercayai setiap kebijakan yang diambilnya, bukan Cuma janji-janji politik saat Pemilukada.
Lempu, artinya jujur. Sikap jujur terhadap sesema mahluk akan menciptakan suatu tatanan kehidupan sosial yang harmonis, karena sifat tersebut bisa membuat masyarakat yang lainnya terpengaruh pada sisfat-sifat yang tidak merusak sistem sosial yang telah tertata rapi dalam lingkungan masyarakat Bone. Lempu juga di sini mengandung empat unsur yakni ; jujur kepada Maha Pencipta, jujur terhadap diri sendiri, jujur tehadap sesama manusia dan jujur tehadap sesama ciptaan yang maha Pencipta.
Tongeng, artinya benar. Diartikan  konsep ini bahwa pemimpin harus benar dalam setiap tindakan utamanya untuk kepentingan rakyatnya, bukan Cuma mementingkan kepentingan segelintir orang.
Namun, bagaimana kondisi Bone pada perayaannya yang ke-681 kini?. Ternyata masih banyak masalah yang belum mampu diselesaikan oleh pemimpin kita, khususnya pada persoalan hukumnya. ada banyak kasus hukum dan kecurigaan proyek yang bermasalah.
Baru-baru ini tentang penunjukan langsung Kepala PDAM Kab. Bone yang ditunjuk langsung oleh Eksekutif tanpa melalui proses scraning pada Legislatif, padahal PDAM diduga pernah mengalami kerugian senilai 1,9 Milyar. Apakah hal tersebut berkaitan dengan kewenangan ataukah malah kesewenangan  seorang pemimpin. Serta bagaimana dengan carut-marut Pupuk di Bone Selatan, jadi jangan heran masyarakat Bone Selatan menuntut pemekaran.
Adapula mengenai kasus Cetak sawah yang saat ini masih dalam proses persidangan yang diduga merugikan Negara sebesar Rp. 600 juta, dugaan alih fungsi hutan lindung menjadi objek wisata di Tanjung Pallette serta Villa beberapa pejabat, proyek rehabilitasi Masjid Agung Darussalam yang hingga kini belum selesai pengerjaannya telah menghabiskan dana 16 Milyar yang sarat dengan Mark up.
Masih kita  ingat pula kasus pengadaan KTP dan KK pada tahun 2007 yang divonis bebas oleh hakim Pengadilan Negeri, dugaan mengenai pertanggung jawaban dana Hibah PKK senilai Rp. 800 juta dan dugaan pengadaan Bibit sapi di lingkup Dinas Peternakan Kab. Bone yang penyalurannya diduga fiktif beberapa waktu lalu.
Yang menjadi pertanyaan kita selanjutnya, mengapa hal tersebut bisa terjadi, apakah pemimpin kita dan sebagian di jajarannya belum memegang salah satu prinsip pemimpin kita  terdahulu tentang  nilai getteng, lempu, tettong riada tongeng.
Itulah sebabnya nilai-nilai para pendahulu harus ditanamkan, dijaga dan direalisasikan oleh pemimpin kita agar ketika orang berbicara kejayaan Bone bukan cuma zaman dahulu, tapi Bone akan Jaya pada zaman dulu, kini dan nanti. JAYA BONEKU, SEJAHTERA RAKYATKU.

PENULIS, FAUZI SAIN (Presiden ke 2 IMHB)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar